“Karena hati nggak pernah bohong.”
Nggak tau, inget banget gue sama kata-kata si pengisi hatiku selama beberapa bulan terakhir ini, tsaah.
Belum memutuskan untuk setuju atau tidak.
He said it in one of our long bbm chats.
Lupa waktu itu lagi bahas apa.
“Kalo kata hati kamu gimana?”
“Harus ya pake nanya hati?”
Lalu keluarlah kata-kata “Karena hati nggak pernah bohong.”
I was typeless.. Trus cuma ketik “hmm..”
Iya, hati nggak pernah bohong. Situ yang suka bohong. Karena nggak pake hati kali ya ;)
So, feelings are fickle. Very fickle.
So do emotions and all.
Heart?
The heart knows what the heart wants, so they said.
Entahlah. Ya udah lah ya :)
Pengen sama si A, tapi kangennya sama si B, dan bbm-an-nya malah sama si C. Blah!
Ke laut aja gimana?
Ke lautnya sama si D.
Ngok!
Hidup memang pilihan.
Termasuk hidup para jomblo —single.
Wanita cukup matang (tsaaah) seperti kaum gue, tentunya punya pertimbangan yg berbeda dari cewek-cewek ranum kaum Aurel Hermansyah dalam memilih ehem ehem PACAR.
Entah udah berapa kali si dedek Aurel ini ganti-ganti pacar di Twitter. Sabar ya nak :’)
Eniweih..
Semakin kau single, semakin banyak pilihan yg hadir dalam hidupmu.
Karena kalau kau pacaran, pilihannya cuma “pacar” atau “orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.”
Intinya saya sedang bingung sodarah-sodarah dalam memilih kumbang-kumbang di taman.
Kumbang jaman sekarang suka nggak jelas, seringkali menghinggapi kembang setaman. If you know what I mean. (If you don’t, nevermind).
Terus agak kurang inisiatif, agresif, preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Padahal saling baku hantam antar kumbang itu tidak dilarang. Ini malah banyak kumbang yang saling baku cium. Ohh :’)
Sudahlah.
Di tengah kegundahan, kembang ini hanya bisa berharap dalam doa:
“Tuhan, ku berikan hatiku padaMu, terserah Tuhan mau dititip ke siapa.”
Ke yang ganteng boleh,
Ke yang baik boleh,
Ke yang pintar boleh,
Ke yang macho boleh,
Ke yang lucu juga boleh.
Ke yang punya semuanya itu, boleh?
A, 26 thn, sebut saja “kembang”, bukan “bunga”.
Orang bilang cemburu itu tanda cinta.
Yang lain bilang cemburu itu tanda kita ga pede sama diri.
Apapun itu, yang jelas, cemburu itu menyiksa.
It can damage you.
Seperti manusia pada umumnya, gue pernah cemburu.
So I spent more than 2 years with this guy I know I can’t trust.
Still, I choose to be with him.
Stupid? It is.
Love? Maybe.
Seriously people, if there is no trust, walk away. It can damage your ability to love.
Making someone love you is easier than making them trust you. And the love won’t last that long without the trust.
-aLni-
Ps: everybody lies.
We have to admit that there is at least one person who makes us feel insecure about ourselves.
Genius classmate.
Super hot co-worker.
Filthy rich colleague.
Famous amos.
So there’s one girl, I pretty much liked her ..
Until one day my man said he amazed by that girl.
What. The. Heck.
He showed me their over-friendly sms. For I don’t know reason.
He even hung up for me just to talk to her when he met her somewhere on the street.
This is war!
I feel insecure.
It’s one terrible feeling. Argh.
It’s not that I’m afraid I’ll lose him.
I know we will separate, eventually, only a matter of time.
It’s just..
I’m no longer that adorable female my man used to think.
He chose that girl.
And that sucks, I tell you.
Since that moment, I knew I can’t love him the same. Don’t blame me.
Kesepian lebih menyakitkan dari apapun.
Malam gue ngetik ini di “Notes” hp, gue lagi di kamar, rumah dinas dokter Puskesmas Haekesak, sendirian.
Sepi. Wajar.
Sepi. Udah jadi temen sehari-hari.
Kalau biasanya Senin-Sabtu gue di Haekesak (desa tempat gue tugas PTT), dan Sabtu-Minggu baru ke Atambua (ibukota kabupaten), minggu ini beda, Selasa, Rabu, Kamis tiap hari gue ke Atambua, pulang-pergi, naik motor, baik itu ojek atau nebeng perawat.
Karena sepi.
Gue ga tahan, dan milih ke Atambua.
Di Atambua. Sepi itu tetap ada.
Intensitasnya aja yang kurang perih.
Karena masih ada sinyal, bisa twitteran, sms-an, teleponan, bahkan makan bakso bareng temen.
Tapi. Tetap. Sepi.
Ada 2 fase dalam hidup gue dimana gue ngerasa sesepi ini.
Pertama, waktu pindah ke kos Samirono untuk pertama kali. Waktu itu gue masih coass, tahun pertama.
Di kamar baru gue itu, gue bahkan ga bisa liat matahari, ga tau bedanya siang atau malam kalau dari kamar.
Kamar berantakan, semua barang hasil pindahan belum tertata.
Tugas coass numpuk.
Duit pas-pasan.
Ga ada temen cerita.
Bahkan di kamar sendiri, tempat dimana gue harusnya merasa paling nyaman, gue ngerasa sumpek, sesek, dan di situlah gue pertama kalinya ngerasa sepi yang sakit banget.
Ga lama, gue pindah ke kamar depan, bisa liat matahari.
Dinding kamar kos gue cat merah jambu, gue cat sendiri, dibantu temen (well, sepupunya mantan pacar yg kemudian jadi temen baik gue sih hehe).
Irama hidup per-coass-an pun mulai gue tata.
Lebih banyak ngabisin waktu sama temen-temen, termasuk nongol ke kamar temen kos, sekedar buat ngobrol atau ke warung depan kos malem-malem sekedar ngobrol basa-basi sama pemilik warung.
Apapun asal ga ngerasa sepi.
Perlahan, hidup gue mulai nggak sepi lagi.
Apalagi setelah ada 1 orang baru yg masuk ke hidup gue.
Yang jadi salah satu temen terbaik gue sampe sekarang.
Wii.. Hidup berwarna.
Dari nonton dvd bareng (lalu sok jadi komentator film paling handal), belajar bareng (dan ketiduran bareng), sampe ngomongin hidup, mimpi, masa depan, Tuhan, berat badan, dan juga ketek.
Ya, gue dan dia, bisa ngomongin apa aja, apa aja.
Orang yang bisa gue telepon tengah malam atau bahkan jam 4 pagi, tanpa rasa sungkan, cuma buat nemenin gue ngobrol ga jelas, karena perasaan gue ga enak dan ga bisa tidur.
Saat itu gue lupa sama gimana rasanya sepi.
Sampai akhirnya 2 tahun kemudian, di sini, di tanah Timor, gue digerogotin lagi sama yg namanya “sepi”.
Pulang, masuk kamar kos, hati rasanya kosong, sekitar hampa, ga ada siapa-siapa, (rasanya kaya) ga punya siapa-siapa, gue naik ke kasur dan mulai nangis sejadi-jadinya.
Gue inget malam itu gue tarik selimut sampe nutupin semua badan dan muka gue, tidur ngeringkuk, nangis sesunggukan sambil bilang “pengen pulang.. Tuhan, aku pengen pulang..” Dan gue ga pernah ngerasa sesepi itu.
Paginya, gue sms “my person”, orang yang sama yg pernah nyelametin gue dari serangan sepi yg pertama.
I feel much better.
Tapi. Sepi itu. Masih ada. Tidak hilang. Sampai sekarang.
Rasanya kosong.
Dulu, Tuhan sempet “minjemin” angel in disguise.
Berawal dari tawaran sederhana gue “mau aku temenin makan?” Siapa sangka malam itu gue dapet temen baru.
Di abang nasi goreng pinggir jalan, kita ngobrol banyak, awalnya obrolan santai aja, karena kita juga baru kenal. Sampai akhirnya, semua ngalir gitu aja, dia cerita tentang dia, gue cerita tentang gue, sambil sesekali tertawa, sesekali pasang muka serius.
Malam itu, sambil ngeliatin dia cerita tentang hidupnya, gue tau anak itu beda.
Dan gue bersyukur bisa nemu orang kaya dia di Atambua kota beriman ini.
Pertemanan kami berlanjut.
Gue bisa cerita apa aja ke dia. Dan dia dengan soknya bilang kalo dia udah tau gue 100%. Ahaha, kadang gue ketawa, kadang gue miris kalo pas dia ngomong gitu.
“Ah, tau apa lo tentang gue?”
Dan saat itu gue nggak ngerasa terlalu kosong. Atambua mulai warna-warni.
Atambua ga sesepi dulu lagi.
Ada yang bisa gue sms “udah nyampeee..” Tiap gue turun gunung.
Ada yang tiba-tiba ngajak makan lele dumbo segede gajah.
Ada yang tiba-tiba nyulik gue ke pantai, panas2an nyari kerang, sampe akhirnya kulit gue gosong dan bentol-bentol digigit agas (nyamuk pantai) yg sampai gue ngetik ini (kurang lebih 3 bulan) ga ilang-ilang bentol+gatalnya, hiks.
But you can’t force someone to stay.
Semesta bisa sedemikiannya berkonspirasi buat lo ketemu sama seseorang yang ga pernah lo bayangin sebelumnya, semesta juga bisa ambil orang itu, gitu aja, tanpa minta persetujuan lo.
Dan gue,
Harus kehilangan satu-satunya temen gue di Atambua.
Dan gue,
Harus kesepian lagi.
Mungkin Tuhan mau supaya gue ga manja.
Supaya gue, ga tergantung sama orang lain.
Supaya gue, bisa ngelawan sepi ini.
Supaya gue, ga cengeng.
Entahlah.
Yang gue tau, gue harus ngelawan sepi ini. Usaha. Apa kek gitu.
Malam ini, habis masak nasi dan ikan sarden, lalu mandi. Gue berniat main ke rumah perawat gue di sebelah, ngajak makan bareng, sekedar ada teman ngobrol. Etapi ga ada orang :(
Gue balik ke rumah dinas, masuk kamar, makan sendirian, baca buku “dan hujan pun berhenti..” Nemu kalimat “Kesepian lebih menyakitkan dari apapun.”
Dan tulisan ini pun jadi.
Dan gue, masih kesepian.
Haekesak, Agustus 2011.
Dia bukan mantan. Kami ga pernah jadian.
Lah, terus apa?
Nggak tau.
Temen aja. Deket.
Temen kok ciuman?
Hak jleb!
Ya. Sampe sekarang gue ga tau dia itu ‘siapanya’ gue.
Penting nggak sih?
Emang penting ya melabeli segala sesuatu?
Jadi, temen aja nih?
Iya kali.
Bener?
Bener.
Temen kok diem-dieman?
Cuek-cuekan?
Nggak mau saling liat.
Temen apaan?
Hwaaa….
*nangis*
Trus, lo sayang, sama temen lo itu?
Sayang itu apa?
Nggak usah sok bego.
Harusnya pertanyaannya tuh ‘dia sayang nggak sama gue?’
Selfish.
Bodo.
Oke, menurut lo, dia sayang nggak sama lo?
Iya kali. Tapi kayanya ga cinta.
Masih terjerat pertanyaan bedanya sayang sama cinta? Basi!
Dia sering bilang dia sayang sama gue. Tapi ga pernah dia bilang cinta gue. Apalagi the L word.
L word?
“I love you.”
Ah, apa bedanya?
Beda. Sayang itu care. Cinta itu love.
Okay, does he care for you?
He used to.
Used to?
Ya. Dulu. Sekarang gue jungkir balik salto dari sini ke Atambua juga dia ga peduli. Gue idup atau mati juga kayanya dia ga peduli.
Do you hate him?
No.
Yes, a bit.
Mm, No.
Heck, I don’t know.
Lagian, peduli apa dia sama apa yang gue rasa.
Terus, lo anggep dia sebagai apa?
Orang yg pernah berjasa ngebantu gue keluar dari keterpurukan, trus ninggalin gue gitu aja, sendirian.
Lo marah?
Kalo bisa, pengen.
Kenapa nggak bisa?
Karena dia, satu dari sedikit orang yang peduli gue bahagia apa enggak.
Satu dari dua orang yg pernah nanya “kamu bahagia nggak?”
Satu-satunya orang yang nanya “aLni bahagia koh sonde di Atambua sini?”
That’s why.
After sunset,
Timor Tengah Selatan,
Somewhere between Kupang-Atambua.
I lay my head on his shoulder.
Dunia rasanya enteng banget.
Ajaib.
Padahal ‘dunia gue’ baru aja ‘runtuh’.
Ini hari ketiga gue jalan bareng dia. Hari terakhir sebelum akhirnya balik ke Atambua dan ngelanjutin hidup masing-masing.
“Kamu tau film 3 hari untuk selamanya nggak?” tanya gue.
“Mm..”
“Itu loh yg main Nicholas Saputra. Film lama sih. Tau?”
“Enggak. Kenapa emangnya?”
“Aku ngerasa kaya di film itu.”
“Kok bisa?”
“Iya. Jadi tu ceritanya si Nico sama ceweknya, aku lupa siapa, jalan darat gitu dari Jakarta ke Jogja. Banyak kejadian yg mereka alamin dalam 3 hari. Pas kaya kita gini. 3 hari. Untuk selamanya. Abis itu, ngelanjutin idup masing2. Akhirnya, ceweknya malah kawin, sama orang lain, haha..”
Dia cuma senyum. Diam sebentar. Seolah berpikir.
“Hmm.. 3 hari untuk selamanya..” Lalu diam lagi.
“Aku bakal bikin 1 tahun untuk selamanya.”
“Ah, sepik..!”
“Hahaha..” dan kita ketawa bareng.
Tarik napas panjang, barengan.
Ngeliat sunset di depan kita, dari atas bukit. Cantik banget. Damai.
Hidup rasanya ringan. Simple. Tenang.
Walaupun besok harus balik ke desa, tempat gue jadi dokter PTT.
Walaupun besok nggak ada temen ngobrol lagi.
Walaupun besok tetep nggak ada yg telepon atau sms manggil gue “baby”.
Walaupun besok harus ketemu lagi sama yg namanya sepi.
Walaupun besok tetep nggak ada yang mengakhiri telepon atau sms-nya dengan “I love you, Ni.”
Walaupun besok isi rekening gue tetap, tanpa gaji.
Walaupun besok gue nggak tau gue sama orang di sebelah gue ini bakal jadi kaya apa.
Sore itu. Semua. Berjalan. Sangat. Baik.
Seolah semesta memanjakan gue teramat sangat.
Seolah semesta mengganti semua air mata gue jadi rasa lega.
Dari samping gue mengamati cowok berkaos pink di samping gue.
Yeah, pink.
Liat bajunya aja udah bikin gue senyum-senyum.
Tiba-tiba kebayang lagi semua yang udah kita jalanin 3 hari ini. Dari yang bikin gue ngakak sampe sakit perut ke hal yang bikin gue bete sampe sakit hati pengen nangis.
Gue cuma senyum.
Senyum paling tulus selama gue di pulau Timor ini.
Senyum karena gue berterimakasih.
Senyum karena gue bahagia.
Senyum karena akhirnya gue ngerti, hidup belum berhenti, dan gue akan baik-baik saja.
Dia ngelingkarin tangannya di bahu gue. Gue senderan di bahu kirinya.
Mengagumi langit warna-warni. Mengagumi hidup.
Mengagumi semesta dan konspirasinya.
Dan sore itu, gue tau, gue siap menghadapi dunia lagi.
Dan ya, ini terdengar sangat cengeng sekali.
—-
(Ditulis 5 sept 2011, jam 19.00 WITA, di rumah dinas, Haekesak, NTT)
My dream land :-) Thank you God for giving me a chance to be there :-) You’re awesome!
(Source: floatingsky)